Kepemimpinan Gereja yang relevan

Ceramah pada Seminar Sehari GTM Badan Pekerja Klasis Makassar, 7 Mei 2001

oleh Pdt. Markus Hildebrandt Rambe

Kepemimpinan Gereja – tema yang sangat luas - dapat didekati dari segi pemahaman Alkitab tentang berbagai bentuk kepemimpinan politis dan religius; dari teologi sistematis, yaitu eklesiologi; dari etika sosial; dari sosiologi maupun dari ilmu komunikasi.

Kepemimpinan Gereja yang relevan – judul yang memberi kebebasan kepada saya untuk tidak meliputi segala aspek, melainkan memilih secara subyektif beberapa aspek yang dianggap penting dan relevan dalam konteks gereja masa kini, khususnya dari sudut pandang seseorang yang tidak langsung terlibat dalam struktur gereja Indonesia / GTM; pandangan yang kritis-simpatis-konstruktif "dari luar".

Saya ingin mulai dengan sebuah gambar. Yesus pernah mengajar kita untuk memandang burung-burung di langit dan belajar dari mereka.  Ini mengingatkan saya pada sebuah fenomena yang dapat disaksikan di Eropa menjelang musim dingin. Burung-burung yang biasannya hidup di Eropa Utara mulai berangkat dan menuju ke Selatan yakni ke negara-negara Laut Tengah yang suhunya lebih panas, sebelum nanti, kalau musim dingin telah berlalu, mereka akan kembali ke tempat yang sama untuk mengeram disini. Burung-burung yang berangkat meninggalkan tempat dingin mencari tempat hangat adalah antara lain angsa-angsa yang dalam kelompok yang jumlahnya kurang lebih 100 ekor terbang bersama. Di langit mereka membentuk suatu formasi seperti huruf "V" – suatu pandangan yang sangat indah dan menarik dan pertanda bahwa musim dingin akan segera datang. Dan yang mengherankan, dengan formasi ini mereka dapat terbang sepanjang hari tanpa istrahat dan menemukan tempat yang ditujui meskipun jaraknya yang kurang lebih dua ribu kilometer.

Rahasia angsa-angsa ini berhubungan dengan sistem kepemimpinan dan kerja sama antara mereka. Dan disini terdapat beberapa aspek yang dapat memperkaya refleksi kita tentang kepemimpinan gereja yang relevan.

  1. Pertama adalah kebutuhan yang sama akan suasana yang lebih hangat dan lebih aman dan tentu saja tujuan yang sama. Sebab tanpa tujuan yang sama maka formasi V burung-burung tersebut akan kacau. Apakah kita sebagai gereja sudah punya kerinduan dan tujuan yang sama? Atau kita lebih mengutamakan konsep-konsep, kepentingan-kepentingan kita masing-masing? Kalau begitu, pembahasan tentang kepemimpinan gereja hanya akan menjadi salah satu alat dalam persaingan dan perang antarkonsep dan antarkepentingan. Apakah kita dapat memahami kembali kepemimpinan gereja sebagai alat untuk menuju arah yang diberikan oleh Allah kepada gereja, yaitu menuju dan mewujudkan Syalom Allah (bukan hanya di surga, tetapi juga di tengah-tengah dunia ini)?
  2. Rahasia kedua angsa-angsa kita adalah cara terbang dalam bentuk formasi "V". Tugas yang paling berat dalam cara formasi V tersebut terletak pada burung "pemimpin" yang berada pada bagian depan karena dialah yang lebih banyak mengeluarkan tenaga untuk menahan angin. Untuk angsa-angsa yang ikut di belakang di sebelah kiri dan kanan jauh lebih ringan dalam menantang angin. Para ilmuwan pernah memperhitungkan bahwa dengan teknik ini efisiensi terbang sekawanan burung 71% lebih tinggi di banding terbang sendiri-sendiri. Jika satu angsa keluar dari formasi tersebut, dia langsung akan merasakan angin yang lebih kejam dan segera kembali ke dalam formasi untuk mendapat keuntungan dari kekuatan bersama. Tetapi bukan hanya angsa di depan yang mendukung angsa-angsa di belakang, namun angsa-angsa di bagian belakang menguatkan angsa-angsa yang di depan dengan teriakan mereka supaya meneruskan kecepatan mereka. Apakah dalam kepemimpinan gereja kita telah siap untuk saling mendukung dan menguntungkan seperti kawanan burung tersebut? Bekerja keras untuk mereka yang ikut di belakang? Menguatkan mereka yang ada di depan dengan penghargaan dan kritik yang konstruktif? Atau kita lebih cenderung saling menjatuhkan, saling mempersulit kemajuan dan kesuksesan? Kita cemburu kepada mereka yang lebih di depan. Dan kita lebih cenderung mendefinisikan kepemimpinan secara statis, jabatan "di atas" dan jabatan "di bawah", bukan secara dinamis, mereka berjuang di depan dan mereka yang bekerja di belakang. Kita harus belajar kembali dalam gereja bahwa kita hanya akan maju kalau kita semua siap untuk bekerja sama dan saling mendukung dan memberi motivasi, dan untuk memahami struktur pimpinan secara fungsional untuk kepentingan dan misi bersama.
  3. "Ketua" angsa itu memang punya posisi yang menuntut kekuatan dan tanggung jawab yang sangat penting dan khusus. Namun ketika ia lelah, ia akan secara menuju ke belakang dan burung lainnya secara otomatis akan mengambil alih tugasnya demikian juga kalau ia lelah yang lain akan maju ke depan dan seterusnya. Kepemimpinan suatu gerakan seperti gereja adalah penting namun yang tidak kalah pentingnya adalah peran serta yang aktiv dan bertanggungjawab dari anggota-anggota lainnya. Disini yang dituntut adalah kerjasama yang baik dan kesadaran akan tanggungjawab masing-masing. Sekali lagi: tujuan bukanlah untuk menjatuhkan mereka yang berada di depan. Namun yang dituntut oleh mereka di depan adalah kesediaan untuk membagi tanggung jawab dengan yang lain, membiarkan dan menguatkan orang lain untuk memimpin dalam bidang merka masing-masing dan memungkinkan suatu koordinasi yang harmonis. Tidaklah sehat kalau semua hanya tergantung pada suatu orang, dan yang lain hanya merasa bertanggung jawab kalau "disuruh". Kita harus belajar dalam gereja untuk tidak memegang secara statis posisi kita masing-masing (yang penting tidak didahului orang lain) dan lebih fleksibel dalam melihat dan menjawab panggilan dan fungsi kita yang paling dibutuhkan dalam situasi tertentu. (termasuk kesedian untuk meletakkan jabatan/suksesi)
  4. Ada satu aspek lagi yang saya anggap relevan berhubungan dengan tema kita: Jika dalam perjalanan yang cukup jauh ada burung yang lemah atau sakit, selalu ada dua ekor burung lain yang akan mendampingi yang sakit ke bawah dan melindunginya dan membantunya sampai ia sembuh atau mati. Lalu mereka akan bersama-sama meneruskan perjalan mereka dengan menggabung dengan sekawanan angsa yang lain, sehingga tidak pernah ada yang tertinggal atau ditinggalkan begitu saja. Dalam gereja juga sangat penting bahwa pemimpin-pemimpin tidak maju sendiri tanpa memperhatikan mereka yang ikut dalam perjalanan kita. Memang ada pencobaan yang cukup besart untuk meninggalkan saja mereka yang mengganggu perencanaan kita, mereka yang tidak bisa ikut dengan kecepatan atau dengan tuntutan-tuntutan moralis dan prestasi kita. Lebih gampang meninggalkan dan menghakimi saja orang yang keluar dari "jalur" nilai dan kebiasaan kita, karena kelemahan manusiawi mereka. Namun gereja harus mengembangkan kembali sikap kepemimpinan Yesus yang siap untuk meninggalkan ke-99 domba untuk mencari satu yang hilang, berani untuk berpihak pada mereka yang lemah atau bahkan diasingkan dari persekutuan mereka (apakah karena kesalahan mereka sendiri atau kesalahan orang lain), dan melakukan fungsi integratif.  Siapa tahu kapan saya sendiri menjadi lemah atau terancam jatuh? Sikap solidaritas bukan dengan mereka yang kuat, melainkan dengan mereka yang lemah, menjadi ukuran utama untuk kepemimpinan gereja yang relevan. Seorang pemimpin tidak menunggu orang datang, tetapi mencari orang yang membutuhkannya.

 

Berangkat dari pengamatan burung ini saya ingin, dalam bagian terakhir pengantar diskusi saya, untuk memperluas dan menyimpulkan beberapa aspek tentang kepemimpinan gereja yang relevan secara sistematis dalam 4 poin:

  1. Kepemimpinan gereja antara pelayanan terhadap Allah dan pelayanan terhadap sesama manusia.
  2. Kepemimpinan gereja antara menerima tanggung jawab kekuasaan dan memberdayakan orang lain.
  3. Kepemimpinan gereja antara karisma dan kompetensi.
  4. Kepemimpinan gereja antara konservasi dan transformasi.

ad 1. Kepemimpinan gereja antara pelayanan terhadap Allah dan pelayanan terhadap sesama manusia.

-         jelas: tugas pimpinan gereja "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" dan menjadi gembala yang tidak "memerintah atas mereka yang dipercayakan" kepadanya, melainkan yang "menjadi teladan" (bdk Mat 20:25-28, Mrk 10:45; Yoh 13:5-15 dll), dan tidak menggunakan paksaan melainkan kesukarelaan (bdk 1 Petr 5:2-4). Disini gereja harus menjadi teladan untuk dunia tentang kepemimpinan yang sebenarnya, dan bukan sebaliknya (menerapkan struktur-struktur kekuasaan dan penindasan duniawi dalam gereja). Kepemimpinan dan administrasi adalah untuk melayani (ad + ministrare!)

-         Tentu saja pelayanan seorang pemimpin gereja terutama dipahami sebagai pelayanan kepada Tuhan. Namun dimensi vertikal ini tidak pernah terlepas dari dimensi horisontal, karena tidak ada jalan lain untuk melayani Allah kecuali melalui melayani sesama manusia.

-         Kita selalu harus mengingatkan diri dan para pemimpin kita bahwa konsep pelayanan ini memutarbalikkan struktur pikiran dan struktur hirarki masyarakat kita: seorang pejabat baru menjadi pemimpin kalau ia merendahkan diri menjadi seorang pelayan. (sulit!)

-         Karena pelayanan seseorang pemimpin bukan hanya masalah antara dia dan Allah, melainkan "masalah duniawi" (antarmanusia), pelayanannya harus juga diukur dengan kriteria-kriteria duniawi. Jangan sampai kata "melayani" hanya menjadi kata kosong untuk menyelubungi kekurangan dalam melakukan kerja dan menggunakan kuasa kita secara bertanggungjawab (ada yang sudah "alergi" dengan kata "pelayanan" dalam gereja).

ad 2. Kepemimpinan gereja antara menerima tanggung jawab kekuasaan dan memberdayakan orang lain.

-         Kuasa yang diberikan Allah kepada jemaatNya dan pemimpin-pemimpinnya menjadi nyata dalam kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Sering kita berbicara seoloah-olah tidak ada kekuasaan dalam gereja (karena kita bersaudara, semua sama di muka Allah, saling mengasihi dll.). Namun di mana ada interaksi antarmanusia dan kehidupan yang diatur secara organisatoris, di situ juga ada kekuasaan. Siapa yang menentukan penggunaan dana jemaat atau sinode, siapa yang menempatkan pendeta, siapa yang punya posisi sosial yang lebih didenggar dari pada orang lain, dia juga punya kekuasaan. Jadi pertanyaan bukanlah apakah ada hal-hal duniawi seperti kekuasaan dalam gereja atau tidak, melainkan bagaimana kekuasaan itu digunakan secara bertanggung jawab, secara transparen, secara jujur dan secara partisipatoris. Termasuk disini bahwa dalam gereja juga harus ada sistem kontrol kekuasaan secara teratur dan transparen.

-         Ada dua bahaya kekuasaan: menyangkal/melarikan diri dari tanggung jawab kekuasaan itu dan tidak menerimanya sebagai tantangan; atau menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri atau kelompok tertentu. (Contoh: dosen dlm memberi nilai – konsekwensi biografis untuk mahasiswa; dua pencobaan: meluluskan semua, lari dari tanggung jawab kekuasaan, tetapi akhirnya sistem pendidikan hancur – menilai secara subyektif: siapa yang dekat dengan saya, simpatis, dari suku atau gender tertentu…). Paling sulit: menggunakan kekuasaan secara obyektif dan bertanggung jawab.

-         Kalau di satu sisi seorang pemimpin harus mampu untuk menerima kekuasaan yang dipercayakan kepadanya secara bertanggung jawab, ia harus juga mampu untuk membagi kekuasaan dan mendelegasikan tanggung jawab. Tidak ada juga gunannya kalau seorang pemimpin memikul semua beban kekuasaan sendiri, mengorbankan kesehatannya dan keluarganya, tetapi akhirnya semua tergantung pada dia dan orang lain tidak dibutuhkan, tidak berdaya lagi dan hanya menjadi penonton. Seorang pemimpin gereja tidak boleh menghindari orang lain maju hanya karena merasa posisinya terancam, tetapi ia harus memotivasi dan memberdayakan orang lain, menemukan kelebihan dan karunia mereka dan mengembangkannya. Kita harus mampu untuk melibatkan orang lain dalam keputusan-keputusan dan dalam realisasinya secara partisipatoris. Profesionalisme dalam kepemimpinan gereja sangat penting, namun jangan sampai profesionalisme itu hanya terbatas pada kelompok elite kecil, dan tanggung jawab dan imanat am orang percaya atau kaum awam semakin diabaikan. (kelebihan gereja Indonesia dibanding gereja di Jerman: orang masih merasa gereja=kita; namun masih lebih cenderung "mensosialisasikan" dari pada "memberdayakan").

ad 3. Kepemimpinan gereja antara karisma dan kompetensi.

-         Setiap orang diberi karunia atau karismata oleh Roh Kudus, dan ini tidak boleh diabaikan melainkan seharusnya menentukan pembagian tanggung jawab dalam kepemimpinan gereja. PB menyebut beberapa karunia seperti mengajar,  melayani, membuat ajaib atau menyembuhkan, berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh dll. (bdk 1 Kor 12; 1 Tim 4:14), dan sudah dikembangkan dalam PB bermacam-macam fungsi atau jabatan gerejawi seperti apostolat, diakonat, presbiter, pastorat, episkopat dll, untuk memimpin gereja dalam panggilan duniawi, dalam dimensi pelayanan (diakonia), kesaksian (marturia) dan pengayuban (koinonia) termasuk kehidupan spiritual (leiturgia). Dalam tubuh Kristus tidak ada fungsi dan karunia yang lebih tinggi atau lebih penting dari pada yang lain, sehingga kepemimpinan gereja adalah fungsi untuk memberdayakan, mengkoordinasi dan mengorganisir karunia-karunia yang ada dengan baik sehingga tubuh ini dapat melakukan misinya di dunia ini secara optimal. Jangan dilupakan bawah kepala gereja tidaklah lain dari pada Kristus sendiri.

-         Namun tidak cukup jika seorang pemimpin gereja hanya percaya kepada karunia yang diberikannya. Ia juga bertanggung jawab untuk mengembangkannya, untuk memperbaiki kekurangannya dan meningkatkan kompetensinya sesuai dengan tuntutan dan tantangan yang dihadapinya. Sering kita merasa kalau kita sudah mencapai pososi tertentu tidak perlu lagi kita belajar. Sebaliknya, semakin tinggi posisi kita dan  semakin besar tanggung jawab kita, semakin banyak kita harus belajar. Misalnya sering diabaikan bahwa seorang pendeta yang memimpin jemaat atau sebuah struktur gereja bersama dengan orang lain tidak hanya membutuhkan dasar teologis yang cukup kuat, tetapi juga misalnya kepandaian menajemen atau pengelolaan. Disini juga masih terletak salah satu kekurangan dalam pendidikan teologi. Dari kompetensi yang seharusnya lebih dikembangkan saya ingin menekankan kompetensi sosial atau kompetensi komunikasi, termasuk kompetensi untuk menangani konflik secara konstruktif. Ia harus mampu untuk menjadi moderator atau mediator dalam konflik, dari pada hanya menghindari atau menekankan konflik, atau bahkan menyebabkan konflik dan melibatkan emosi pribadi. Ia berada dalam posisi yang paling berpengaruh untuk mendukung atau menghindari perkembangan suatu kultur kritik dan konflik yang konstruktif dalam gereja.

-         Semua ini adalah kompetensi-kompetensi yang dapat dilatih, dan dalam dunia modern dan semakin rumit tidaklah cukup kalau seorang pemimpin sudah puas dengan karunianya dan pengalamannya.

ad 4. Kepemimpinan gereja antara konservasi dan transformasi.

-         Dalam poin terakhir ini kita melihat kepemimpinan gereja dalam ketegangan yang konstruktif antara upaya untuk menjamin kontinuitas dan tradisi gereja di satu sisi, dan menjadi motor perubahan dan transformasi sosial di sisi lain.

-         Disini seorang pemimpin menjadi "konservatif" dalam arti yg sebenarnya: mempertahankan dan menjamin nilai, tradisi dan aturan gereja yang menjadi identitas persekutuan. Disini sering dituntut bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan yang baik (atau bahkan sempurna) dalam menaati nilai-nilai perseketuannya. Dan ini tidak hanya berlaku jika konformitas dituntut oleh nilai-nilai etika Kristen, namun juga jika dituntut oleh kebiasaan atau tradisi masyarakat setempat yang harus diperhatikan (mis: di kota tidak apa-apa pendeta ke bioskop atau pendeta perempuan memakai jeans, dan tidak ada larangan dari etika Kristen; namun di desa hal tersebut bisa melanggar nilai-nilai masyarakat) – Paulus: demi mereka yang "lemah", tidak menjadi batu sandungan dan hambatan untuk pemberitaan firman.

-         Di sisi lain, seorang pemimpin gereja selalu harus sadar bahwa formalisme aturan, kelembagaan yang statis dan sikap yang eksklusif adalah lawan gereja sebagai gerakan misi Allah dan dinamika Roh Kudus. Injil Yesus Kristus selalu menantang kita untuk menerobos dan mentransformasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan kita sesuai dengan inti perintah kasih terhadap Allah dan sesama manusia. Disini kepemimpinan gereja harus selalu siap untuk membaca tanda-tanda zaman, memiliki "sense of krisis" dari pada hanya sibuk dengan masalah-masalah intern gereja. Kepemimpinan gereja harus mendengar, mengangkat dan menyuarakan suara-suara kenabian dalam gereja sehingga gereja dapat menjadi motor untuk perubahan atau transformasi masyarakat, dan sekaligus berani untuk ditransformasikan atau mengalami perubahan sesuai dengan konteks di mana kita berada.

 

Sekian dan terima kasih,

Makassar, 7 Mei 2001

Pdt. Markus Hildebrandt Rambe MTh

Dosen Misiologi STT Intim Makassar

Literatur terpilih:

A.J. Anggui, Jabatan Gerejawi Ditinjau Dari Segi Perjanjian Baru, dalam: Zakaria J. Ngelow (ed): Seberkas Cahaya di Ufuk Timur. Pemikiran Teologi Dari Makassar. Makassar: STT INTIM 2000, hlm 569-577

Michael A. Cowan, Kepemimpinan dalam Jemaah, Yogyakarta: Kanisius 1994

Ernst-Georg Gaede & Thomas Listing, Gruppen erfolgreich leiten, Mainz: Gruenewald 1993

Phillip L. Hunsaker dan Anthony J. Alessandra, Seni Komunikasi Bagi Para Pemimpin, Yogyakarta: Kanisius 1986

Sutan M. Hutagalung, Identitas Kepemimpinan Pelayan Gereja Dalam Konteks Kemandirian Teologi, Daya dan Dana. Jakarta: BPK Gunung Mulia 1997

Andar Ismael, Awam & Pendeta – Mitra Membina Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia 1999

Charles J. Keating, Kepemimpinan. Teori dan Pengembangannya, Yogyakarta: Kanisius 1986

Henry J.M. Nouwen, Pelayanan Yang Kreatif, Yogyakarta: Kanisius 1986

Emanuel Gerrit Singgih, Reformasi dan Transformasi Pelayanan Gereja Menyongsong Abad ke-21, Yogyakarta: Kanisius 1997