A         Doa

A         Pembacaan Alkitab Yakobus 3:13-18

M         maju ke depan dengan Ransel

A         Ee… mau ke mana dengan ransel yang berat ini? Kami tengah beribadah Minggu dan baru mau mulai dengan khotbah.

M         Ini desa Turunan di Sangala' kan? Katanya ada ibadah disini tentang perdamaian…?

A         Benar, tetapi saudara terlambat, kami sudah mulai! Namun, apa yang saudara bawa dalam ransel itu

M         Saya membawa damai. Dalam Injilnya Matius pernah mengutib Yesus: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

A         Benar. Kami baru saja mendengar sebuah pembacaan Alkitab dari Surat Yakobus yang berakhir dengan kalimat yang hampir sama: "Buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai." - Tetapi apa hubungannya ransel ini dengan membawa damai?

M         Memang dalam ransel ini saya membawa damai… Tentu saja tidak dalam arti yang harfiah. Namun saya bawa beberapa barang yang dapat membantu kita untuk memahami apa yang dimaksud Alkitab dengan "Berbahagia orang yang membawa damai". Tunggu sebentar. Saya akan membuka dan mengangkat simbol yang pertama…

            (mengambil cermin; kepada jemaat/anak-anak:) Apakah barang perdamaian pertama yang saya bawakan?     Benar, sebuah cermin…

A         Semua orang tahu bahwa itu adalah sebuah cermin. Tetapi apa hubungannya dengan membawa damai.

M         Mungkin kita tanya dulu jemaat disini. Mungkin sudah ada yang bisa bayangkan, apa hubunganya sebuah cermin  dengan perdamaian….?  (dialog dengan jemaat … untuk apa sebuah cermin dibutuhkan…? Siapa yang kita melihat jika memandang ke dalam cermin…?…)

            Jadi, yang dilihat dalam cermin adalah kita sendiri. Untuk menjadi seorang pembawa damai, kita harus juga melihat kepada kita sendiri. Pernah saya mendengar istilah "mengintrospeksi diri" – artinya, saya terlebih dahulu mencari kesalahan dan juga kunci untuk kehidupan yang damai pada diriku sendiri. Kalau ada pertengkaran dalam keluarga atau masyarakat, jangan kita selalu mempersalahkan orang lain. Mari kita melihat ke dalam cermin dulu: apakah mungkin saya telah menyakti hati orang lain? mungkin saya yang terlalu egois, keras kepala, selalu merasa dirinya benar dan tidak pernah mau kalah? Apa yang saya dapat mengubah dari sikap dan tindakan saya, supaya pertengkaran itu dapat diselesaikan dengan baik. Apakah saya mampu untuk meminta maaf untuk kesalahan saya? Apakah saya mampu untuk mementingkan kebersamaan lebih dari diriku sendiri?…

            Cermin ini mengingat kita, bahwa kita harus mulai dengan mengubah diri kita sendiri kalau kita ingin menjadi pembawa damai. Tuhan Yesus dalam Alkitab sering menjelaskan, sikap apa yang dibutuhkan, mungkin ibu pendeta bisa jelaskan ini dengan lebih baik.

A         Sikap introspeksi atau kembali menilai keadaan kita sendiri sebelum menilai orang lain sering ditekankan oleh Tuhan Yesus sang raja Damai. Salah satu contoh yang paling kongkrit misalnya saja ketika pada suatu pagi ada semacam kerusuhan kecil di Bukit Zaitun. Keributan itu berawal dari ahli-ahli Taurat katakanlah para tua-tua agama setempat yang hendak menghakimi seorang perempuan yang menurut mereka telah kedapatan berbuat zinah. Para tua-tua agama tersebut merasa diri mereka suci dan tidak mau tercemar oleh dosa perempuan tersebut oleh sebab itu mereka ingin agar perempuan tersebut mendapat hukuman (yoh 8:1-11). Sikap Tuhan Yesus menghadapi persoalan ini adalah mengajak para tua-tua agama untuk introspeksi diri, untuk kembali menanyakan diri mereka sendiri: apakah saya sudah sedemikian suci sehingga saya mampu menghakimi orang lain. Tuhan Yesus mengajar para tua-tua agama untuk menggunakan cermin atau dalam bahasa Injil Matius bahwa para tua-tua agama tersebut telah melihat selumbar didalam mata orang lain sementara balok didalam mata mereka tidak mereka ketahui. Melihat selumbar didalam mata orang lain inilah yang sering melahirkan permusuhan, perseteruan, kebencian dalam masyarakat, jemaat bahkan keluarga. Oleh sebab itu sebagai pengikut Tuhan Yesus sang Raja Damai, orang yang membawa damai, Tuhan Yesus mengajar kita untuk bercermin, mengintrospeksi diri: sejauhmana peran saya selama ini dalam menanam bibit kebencian atau permusuhan disekitar saya; apakah selama ini saya selalu merasa lebih dari yang lain (lebih penting, lebih baik, lebih tinggi kedudukan, dll); bagaimana sikap saya selama ini dalam sebuah perseteruan; mampukah saya menjadi penengah/pendamai atau sebaliknya apakah kehadiran saya telah menambah tajamnya perselisihan.  Sejumlah pertanyaan akan timbul ketika kita melihat wajah kita di cermin. Ini langkah awal dari upaya pendamaian.

            Baiklah sidang jemaat, mari kita lihat apa masih ada lagi yang pak Markus bawa dalam ranselnya?

 

 

M         (mengangkat timbangan) Ini adalah sebuah…. (jemaat) … Simbol ini juga mengandung makna yang sangat penting untuk orang yang ingin membawa damai … (jemaat)

            Benar. Kalau kita ingin menanam damai, kita harus menaburkan kebenaran dan keadilan. Satu hal yang sangat penting. Kita sudah melihat dalam dunia politik, apa yang terjadi kalau kebenaran dan keadilan diinjak-injak, tidak pernah ada perdamaian. Ini tidak boleh terjadi di antara kita. Apa yang dikatakan Alkitab tentang kebenaran dan keadilan?

A         Salah satu nasehat Yakobus dalam suratnya yang telah kita dengarkan tadi pada perikop yang terakhir adalah buah kebenaran  ditaburkan dalam damai bagi mereka yang membawa damai.  Memang tidaklah mungkin buah-buah kebenaran akan ditaburkan dengan kedengkian dan iri hati. Niat seseorang untuk melakukan dan mengatakan yang benar tidak mungkin lahir dari sikap dan sifat kemunafikan melainkan dari hati yang tulus dan jujur. Salah satu akar permasalahan atau perseteruan yang dilihat oleh Yakobus yang dapat memecahbelah persekutuan adalah berdusta dan sikap munafik. Ketika seseorang tidak lagi jujur terhadap dirinya sendiri dan dengan sesamanya maka seseorang akan memanipulasi dirinya sendiri dan sesamanya sehingga hubungan antar sesama menjadi rusak dan ia pun akan menjadi asing bagi dirinya sendiri, artinya ia menjadi tidak tenang karena ada sesuatu yang mengganjal dirinya karena ia mendustai hati nuraninya. Usaha perdamaian akan sia-sia apabila kebohongan dan ketidakadilan masih saja merajalela. Contoh yang paling kongkrit adalah usaha-usaha perdamaian di beberapa daerah yang rusuh di negara kita misalnya di Poso atau di Ambon. Ketika masing-masing pihak hanya mementingkan dirinya sendiri dan menceritakan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran dari pihaknya dan menutupi kebenaran pihak lain atau ketika masing-masing pihak hanya menunjukkan gambar-gambar (foto-foto) kebrutalan dan kebiadaban pihak lain dan menutupi kenyataan tindakan kebrutalan yang mereka lakukan atau ketika masyarakat menyangsikan keadilan yang digelar dilembaga-lembaga peradilan, maka tidak heran kalau usaha-usaha perdamaian akan menjadi sia-sia bahkan perseteruan dan konflik akan terus berlangsung bahkan semakin membesar. Perdamaian dimulai dari kejujuran terhadap diri sendiri dan terhadap sesama karena perdamaian membutuhkan ketulusan dan kesungguh-sungguhan, ia lahir dari buah-buah kebenaran dan keadilan.

                       

            Masih ada isinya…?

M         Ada. (mengambil Salib) Sebuah ….. Kenapa saya membawa sebuah salib…? (JemaatApa makna salib berhubungan dengan perdamaian… ) Namun, saya dengar, pernah ada orang yang memakai simbol salib untuk berperang! … (komentar jemaat .. apakah ini dapat dibenarkan?…) Saya kira, kita harus betul-betul memahami makna salib itu, jangan sampai kita sendiri yang menyalahgunakan simbol itu!

A         Dalam surat Paulus untuk jemaat di Kolose, Rasul Paulus mengatakan : "Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus (Kol 1:20-21). Disini Paulus kembali menegaskan makna salib sebagai alat pendamaian dan kerendahan hati. Pertama-tama sebagai simbol perdamaian: Allah sendiri yang berinisiatif untuk mendamaikan dirinya dengan manusia. Aspek yang menarik untuk diperhatikan disini adalah siapa yang berinisiatif untuk melakukan perdamaian. Dalam sebuah pertengkaran biasa sampai ke perselisihan yang besar, sering dipertanyakan siapa yang harus memulai berdamai. Dari kecil dalam keluarga kita diajar bahwa yang adik yang lebih dulu minta maaf, atau anak yang lebih dahulu minta maaf, meskipun yang salah itu kakak atau orang tua. Dengan kata lain yang berinisiatif untuk berdamai biasanya orang yang berada pada pihak yang lemah atau kalah. Tradisi atau kebiasaan semacam ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Allah. Allah Yang Maha Tinggi dan Maha segalanya bersedia memulai perdamaian dengan manusia yang telah menolak kasihNya. Allah tidak menunggu manusia yang harus terlebih dahulu datang minta maaf karena manusia lebih rendah dari Allah dan karena manusia yang bersalah. Allah Yang Maha Kuasa telah mengambil inisiatif pertama untuk berdamai dengan manusia.

            Salib juga menjadi simbol kerendahan hati. Cara pendamaian Allah di kayu salib berbeda sekali bahkan bertolak belakang dengan  keberadaan Allah sebagai Yang Maha Kuasa. Cara pendamaian dengan salib tidak menunjukkan kemenangan atau kemahakuasaan Allah melainkan bisa dikatakan cara pendamaian dengan salib adalah cara orang yang kalah, cara orang yang tak berdaya atau lemah bahkan cara orang yang ditinggalkan. Dalam perdamaian dibutuhkan sikap kerendahan hati bukan sikap menepuk dada karena kehebatan. Dengan itu pula peristiwa di kayu salib memberi perlawanan terhadap segala macam jenis kekerasan dengan pengampunan dan perdamaian.

 

 

M         Sekarang sudah menjadi jelas, bahwa salib itu betul-betul suatu simbol perdamaian, yang sama sekali tidak boleh digunakan untuk tindakan-tindakan permusuhan atau kekerasan apapun. Sebenarnya kita bisa ingat ini dengan sangat mudah. Salib adalah simbol perdamaian antara Allah dengan dunia dan semua manusia (vertikal) dan antara kita dengan sesama manusia dan ciptaan (horisontal). Yang satu tidak mungkin tanpa yang lain…

            Masih ada satu hal yang tersimbunyi dalam ransel saya (mengambil tongkonan). (jemaat…) Saya yakin, semua orang Toraja bisa jelaskan sendiri, apa makna tongkonan ini sebagai tempat perdamaian…. (jemaat).

            Bagaimana kita melihat simbol tongkonan ini dalam terang Firman Allah?

A:         Dari penjelasan bapak-bapak dan ibu-ibu tadi serta dari pelajaran yang saya dapat di Kampus dari diskusi dengan mahasiswa – mahasiswi Toraja, saya mendapat kesan bahwa tongkonan merupakan jantung (pusat) kegiatan kehidupan persekutuan masyarakat Toraja. Tongkonan ini bukan saja sekedar rumah adat yang indah dan menjadi ciri khas dan simbol budaya Toraja melainkan ia mempunyai arti yang cukup penting dan makna yang besar dalam kehidupan persekutuan masyarakat disini. Di Tongkonan lah ibu-bapak duduk bersama-sama menyelesaikan semua jenis persoalan, baik itu persoalan keluarga maupun persoalan masyarakat. Dari sebuah Tongkonan ibu-bapak dapat bertemu kembali dengan saudara-saudari atau keluarga yang telah lama tercerai berai atau mungkin saja terjadi pertemuan dengan keluarga yang sama sekali belum saling mengenal dengan kata lain dari sebuah tongkonan ibu- bapak dapat mengenal asal usul. Jadi disamping sebagai tempat pendamaian, tongkonan ini pula menjadi tempat yang dapat mempersatukan saudara bersaudara dalam sebuah ikatan kekeluargaan dan sekaligus tempat pengenalan (simbol) identitas diri.

            Melihat makna tongkonan sebagai tempat perdamaian kita jadi teringat akan pemazmur yang mengatakan:  Sungguh alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara tinggal bersama dengan rukun dan damai (maz. 133.1). Seandainya Pemazmur orang Toraja mungkin ia  akan berkata: sungguh alangkah baiknya dan indahnya tinggal didalam rumah tongkonan dengan rukun dan damai. Dengan demikian ada makna yang sama yang diungkapkan oleh keduanya (tongkonan dan pemazmur) yakni  "tinggal bersama atau hidup bersama dengan rukun dan damai". Masyarakat dan sebagian dari keluarga Toraja tentunya tidak hanya terdiri dari orang-orang yang beragama Kristen melainkan juga ada yang beragama lain. Suatu hal yang menarik bahwa perbedaan tersebut tidak merusak makna sebuah tongkonan. Pencarian jalan keluar dari suatu masalah di dalam sebuah tongkonan sering dilakukan bersama-sama anggota tongkonan yang beragama Kristen, Islam atau mungkin yang beragama Alu' todolo. Bersama-sama menginginkan suatu kehidupan yang rukun dan damai.

            Makna yang kedua dari tongkonan adalah sebagai tempat pertemuan dalam suatu ikatan kekeluargaan yang besar. Saya langsung membayangkan seolah-olah sekarang kita berada di sebuah tongkonan karena banyak dari kita yang hadir saat ini baru saja bertemu disini, ada yang dari Jerman, yang dari Swiss, dari Menado, Sangir, Kalimantan datang beribadah bersama-sama dengan jemaat di desa Turunan sini. Dan pertemuan kita hari ini di tongkonan ini tentu saja akan menjadi kenangan tersendiri masing-masing kita.

Sekarang Ransel kamu sudah kosong?

M         Masih ada satu hal. (mengambil kidung jemaat). Supaya kita tidak hanya berbicara tentang perdamaian, tetapi juga memuji Tuhan yang memberi semangat kepada kita semua untuk bersama-sama menjadi pembawa damai.

Mari kita menyanyi dari Kidung Jemaat No. 426 ayat 1.